Sudibyo, H., Salsabila, R., Oktian, R. C., Sapaat, M., Majid, A. I., Pratama, A. A., Samudra, T. T., Anwar, M., & Prasetyo, D. J. (2026). Integrated biomass-assisted carbothermal reduction and staged hydrometallurgical extraction for selective multi-element recovery from red mud. Journal of Analytical and Applied Pyrolysis, Volume 197 (Terbit 12 Mei 2026).
Di balik kemudahan yang ditawarkan oleh material aluminium, mulai dari ponsel pintar, kemasan makanan, hingga komponen pesawat terbang, terdapat sebuah “bom waktu” ekologis yang mengancam bumi. Tahukah Anda bahwa untuk setiap produksi satu ton aluminium, industri menghasilkan lebih dari satu ton limbah sisa yang dikenal dengan sebutan “lumpur merah” (red mud)?
Saat ini, diperkirakan ada lebih dari 4 miliar ton lumpur merah yang menumpuk di fasilitas pembuangan di seluruh dunia. Limbah ini sangat basa dan berisiko mencemari air tanah serta merusak ekosistem di sekitarnya. Ironisnya, membuang dan mengelola limbah basah ini butuh biaya yang sangat mahal. Namun, bagaimana jika tumpukan limbah berbahaya ini ternyata menyimpan harta karun berupa logam-logam bernilai tinggi?
Melihat celah tersebut, tim peneliti dari Departemen Teknik Kimia (DTK) Universitas Gadjah Mada (UGM) melakukan gebrakan inovatif. Alih-alih melihat lumpur merah semata-mata sebagai sampah industri, para peneliti berhasil mengubahnya menjadi “tambang baru” untuk mengekstrak mineral kritis.
Melalui riset mutakhir yang baru saja dipublikasikan di jurnal internasional bergengsi, Journal of Analytical and Applied Pyrolysis (Q1), tim peneliti DTK UGM mengusulkan metode terintegrasi yang menggabungkan proses pemanasan termal dan ekstraksi cair (hidrometalurgi). Menariknya, inovasi ini menggunakan bahan pembantu yang sangat melimpah di Indonesia, yaitu biomassa dari Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS).
Proses inovatif ini bekerja layaknya “memanggang” lumpur merah bersama limbah kelapa sawit pada suhu tinggi (600–1000 °C). Saat dipanaskan, limbah sawit menghasilkan gas pereduksi alami yang secara efektif memisahkan ikatan logam di dalam lumpur merah. Metode ini jauh lebih efisien dan ramah lingkungan dibandingkan proses peleburan logam (smelting) konvensional yang sangat boros energi dan padat emisi.
Hasilnya pun sangat mengesankan! Lewat proses pemisahan magnetik dan ekstraksi bertahap yang presisi, inovasi ini mampu menyelamatkan elemen-elemen berharga dengan tingkat kemurnian yang luar biasa. Dari tumpukan lumpur sisa, tim sukses mengekstrak 88% Besi (Fe) murni, 60% Terbium (Tb—salah satu Logam Tanah Jarang yang bernilai tinggi), 55% Kromium (Cr), dan 95% Silikon (Si). Logam-logam inilah yang menjadi nyawa bagi teknologi masa depan, seperti pembuatan baterai, magnet, hingga perangkat elektronik mutakhir. Riset ini membuktikan bahwa tantangan lingkungan yang masif bisa diselesaikan melalui pendekatan sains dan ekonomi sirkular yang cerdas.
Baca publikasi ilmiah selengkapnya di sini:
Jurnal: Journal of Analytical and Applied Pyrolysis (2026), Integrated biomass-assisted carbothermal reduction and staged hydrometallurgical extraction for selective multi-element recovery from red mud.
Tim Peneliti Utama: Tim Peneliti Rekayasa Proses DTK UGM
Tautan Artikel: Journal of Analytical and Applied Pyrolysis – Red Mud Extraction
DOI: 10.1016/j.jaap.2026.107841