Komitmen terhadap pengelolaan lingkungan yang bertanggung jawab terus menjadi perhatian utama industri pulp dan kertas. Menjawab tantangan tersebut, PT Tanjungenim Lestari Pulp and Paper (PT TeL) menjalin kerja sama strategis dengan Pusat Kajian LKFT Universitas Gadjah Mada, yang diwakili oleh tim peneliti dari Departemen Teknik Kimia UGM, dalam sebuah kajian teknis pengurangan kekeruhan dan warna pada air limbah terolah dari Effluent Treatment Plant (ETP). Kolaborasi ini tidak hanya berfokus pada pemenuhan standar lingkungan, tetapi juga pada upaya mencari solusi teknis yang efektif, aplikatif, dan berkelanjutan, sejalan dengan prinsip industri hijau dan pengelolaan sumber daya yang bertanggung jawab. Kegiatan kerja sama ini dilaksanakan dalam rentang waktu Januari hingga Agustus 2025.
SDG 12: Konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab
UGM Kembangkan Prediksi Pirolisis Biomassa Berbasis Machine Learning dan Tingkatan Taksonomi Tanaman
Tim peneliti dari Departemen Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM) mengembangkan pendekatan baru dalam prediksi hasil pirolisis biomassa dengan memanfaatkan kecerdasan buatan (machine learning) yang dipadukan dengan tingkatan taksonomi bahan baku. Penelitian ini dilakukan oleh Dr. Jonas Kristanto bersama Dr. Muhammad Mufti Azis dan Prof. Suryo Purwono, dan telah dipublikasikan pada jurnal internasional Biomass and Bioenergy.
Dalam penelitian ini, kuantitas produk pirolisis diprediksi menggunakan machine learning berbasis dataset mutakhir yang dihimpun dari 1.006 data eksperimen pirolisis dari ratusan publikasi ilmiah bereputasi sejak tahun 2021. Dataset tersebut mencakup komposisi unsur, analisis proksimat, kandungan lignoselulosa, serta kondisi operasi seperti suhu pirolisis, ukuran partikel, laju pemanasan, waktu tinggal, dan laju aliran gas.
Departemen Teknik Kimia, Fakultas Teknik UGM resmi meluncurkan Massive Open Online Course (MOOC) bertema Life Cycle Assessment (LCA) melalui platform mooc.ugm.ac.id. Inisiatif ini merupakan bagian dari komitmen UGM dalam menghadirkan pendidikan yang inklusif dan bermutu, sekaligus mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 4 (Quality Education) dan SDG 12 (Responsible Consumption and Production).
Kursus LCA ini ditujukan bagi mahasiswa, profesional, dan pelaku industri yang ingin mempelajari LCA secara sistematis. Selain materi komprehensif, kedua kursus juga dilengkapi kuis-kuis sederhana untuk membantu peserta mengevaluasi pemahaman dan progres belajar.
Program ini terdiri dari dua mata kuliah LCA yang saling melengkapi:
- Teori Penilaian Daur Hidup (Life Cycle Assessment; LCA)
https://mooc.ugm.ac.id/courses/teori-penilaian-daur-hidup-life-cycle-assessment-lca/
Materi ini menyajikan konsep dasar, kerangka kerja, serta metodologi LCA berdasarkan standar SNI ISO 14040 dan ISO 14044. Peserta akan mempelajari tahapan LCA mulai dari penetapan tujuan dan ruang lingkup, pengembangan inventarisasi daur hidup, penilaian dampak lingkungan, hingga interpretasi.
Lima mahasiswa Universitas Gadjah Mada berkesempatan mengikuti Ehime University Short Term Exchange Program 2025, sebuah program pertukaran pelajar yang berlangsung pada 15 Oktober-14 November 2025 di Matsuyama, Perfektur Ehime, Jepang. Peserta berasal dari berbagai departemen di Fakultas Teknik UGM, termasuk satu mahasiswa dari Departemen Teknik Kimia. Program ini merupakan bentuk kerja sama antara Fakultas Teknik UGM dan Faculty of Engineering Ehime University dalam memberikan pengalaman akademik, riset, dan pengenalan budaya dalam lingkungan internasional.
Yogyakarta, Indonesia — Universitas Gadjah Mada (UGM) melalui tim penelitinya resmi memperoleh pendanaan International Science Partnerships Fund (ISPF) dari British Council untuk proyek riset kolaboratif dengan Imperial College London (ICL), Inggris. Informasi pendanaan ini disampaikan secara resmi melalui surat Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan (Ditjen Risbang) melalui Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) nomor 1563/C3/DT.05.00/2025 tanggal 21 November 2025.
Tim UGM dipimpin oleh Dr. Hanifrahmawan Sudibyo (FT UGM) dengan anggota Prof. Wiratni, Dr. Lisendra Marbelia, dan Dr. Akmal Irfan Majid. Di pihak Inggris, kolaborasi ini dipimpin oleh Dr. Anna Hankin dari Imperial College London. Proyek ini terpilih dalam skema hibah ISPF di bawah tema Advanced Materials and Manufacturing, yang berfokus pada pengembangan material canggih dan teknologi manufaktur berkelanjutan.
Penelitian ini melibatkan kolaborator dari UGM (Prof. Arief Budiman, Prof. Wiratni, Dr. Eng. Ngadisih, Dr.nat.techn. Rizki Maftukhah, dan Robertus D. D. Putra, S.T., M.Eng., Ph.D.), BRIN (Dr. Ai Dariah dan Dr. Edi Wiloso), IPB University (Dr. Joni Jupesta), serta mitra industri dari PT Astra Agro Lestari Tbk. Riset akan difokuskan pada tiga aspek utama: fabrikasi biochar, uji agronomi, serta kajian Life Cycle Assessment (LCA) dan teknoekonomi. Pada tahap fabrikasi, tim menargetkan pengembangan biochar dengan rendemen tinggi dan stabilitas karbon jangka panjang. Uji agronomi akan menelaah dampak aplikasi biochar terhadap fisiologi tanaman, fiksasi nutrisi, perubahan sifat fisik–kimia–biologi tanah, serta emisi gas rumah kaca pada fase vegetatif tanaman sawit belum menghasilkan. Sementara itu, studi LCA akan menghitung potensi kredit karbon berdasarkan jumlah karbon stabil yang tersimpan dikurangi seluruh emisi proyek menggunakan metodologi Verra VM0044 atau Gold Standard BCRS, menghasilkan estimasi Net Avoided Emission sebagai dasar perhitungan VCU/VER.
Selain kredit karbon, penelitian ini juga menargetkan perolehan nutrient credit melalui kuantifikasi co-benefits agronomi. Pengurangan kebutuhan pupuk N, P, dan K setelah aplikasi biochar dihitung sebagai ΔN, ΔP, dan ΔK, kemudian dikonversi menjadi nutrien yang dihemat (kg/ha/tahun) serta emisi yang dihindari menggunakan faktor emisi IPCC 2019. Apabila metodologi co-benefit diakui dalam skema karbon, nilai tersebut dapat dikonversi menjadi Nutrient Offset Units (NOUs) yang dapat diklaim sebagai co-benefit credits atau Sustainable Agriculture Enhancement Units (Gold Standard). Luaran penelitian mencakup kredit nutrien per hektare per tahun, estimasi emisi pupuk yang terhindarkan, serta peningkatan efisiensi pemanfaatan nutrisi.
Mahasiswa Departemen Teknik Kimia FT UGM berhasil meraih juara 1 dalam Case Study Competition (CAT!ON) Chemistry Fair UI 2025 yang diselenggarakan pada 15–16 November 2025 di Departemen Kimia FMIPA Universitas Indonesia. Mengusung tema “Driving Industrial Transformation towards a Decarbonized Society,” kompetisi ini menjadi wadah bagi mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi untuk menguji kemampuan analisis kasus industri berbasis data dan sains, sekaligus mengembangkan gagasan teknologi rendah karbon yang aplikatif dan ekonomis. Keikutsertaan tim Teknik Kimia FT UGM juga menjadi upaya untuk berkontribusi dalam kompetisi paper tingkat nasional serta membawa nama baik departemen di kancah akademik.
Yogyakarta, 3 November 2025 — Tim peneliti yang dipimpin oleh Ir. Hanifrahmawan Sudibyo, S.T., M.Eng., M.S., Ph.D. dari Departemen Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada (UGM), sedang melaksanakan penelitian kolaboratif internasional dalam program e-ASIA Joint Research Program (e-ASIA JRP) dengan nomor kontrak 69/IV/KS/04/2025.
Penelitian ini berfokus pada pemanfaatan biomassa limbah industri pulp dan kertas (pulp and paper mill sludge, PPMS) melalui proses pirolisis katalitik untuk menghasilkan biochar sebagai carbon dioxide removal agent (agen penyerapan CO₂ jangka panjang), sekaligus memproduksi biocrude oil dan syngas sebagai sumber energi terbarukan.
Tim Al-Hikmah dari Universitas Gadjah Mada (UGM) berhasil menorehkan prestasi membanggakan sebagai finalis dalam Bioleague 2025 – Case Study Competition, sebuah ajang ilmiah internasional di bidang rekayasa biologis yang diselenggarakan oleh Society for Biological Engineering Universitas Indonesia Student Chapter (SBE UI SC), organisasi di bawah komunitas teknologi American Institute of Chemical Engineers (AIChE). Kompetisi ini bertujuan menjadi wadah pengembangan kreativitas, rasa ingin tahu, serta kemampuan pemecahan masalah mahasiswa dalam konteks rekayasa biologis berkelanjutan.
Tim Maba Penasaran, yang beranggotakan dua mahasiswa baru, Faiq Fadhlul Aziz dan Fabiola Icasia Rahmah, berhasil berangkat ke Universitas Sebelas Maret dalam rangka mengikuti babak final Ecodays National Essay Competition (ENASCO) 2025. ENASCO 2025 adalah salah satu rangkaian event yang diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Teknik Kimia Universitas Sebelas Maret, ECODAYS 2025. Tema dari ECODAYS 2025 adalah “Every Step Counts in Creating a Zero Emission Future” dan Tim Maba Penasaran mengusung inovasi dengan sub-tema Advanced and Environmentally Friendly Materials.
Pada kompetisi ini, tim CarbonSteel mengusung inovasi berjudul HIPRO, yaitu sebuah sistem terintegrasi untuk valorisasi limbah gliserol dari industri biodiesel menjadi propilen glikol bernilai tinggi. Teknologi ini mengubah produk samping biodiesel, yaitu gliserol mentah 8, menjadi propilen glikol melalui proses hidrogenolisis9. Keunggulan utama HIPRO terletak pada penggunaan hidrogen hijau yang diproduksi secara mandiri melalui elektrolisis air, dengan sumber energi berasal dari teknologi Photovoltaic-Thermal (PVT) yang efisien.
Inovasi HIPRO dirancang untuk menjawab tantangan ketergantungan impor propilen glikol di Indonesia, yang pada tahun 2023 mencapai 38.154 ton dengan nilai devisa 54,1 juta US. Berdasarkan analisis, sistem HIPRO mampu mengurangi jejak karbon hingga 33% dibandingkan proses petrokimia konvensional, dengan estimasi emisi hanya sebesar 3,19 kg CO2 per kg propilen glikol.
HIPRO turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya poin ke-7 (Energi Bersih dan Terjangkau) melalui pemanfaatan energi surya, poin ke-9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur) dengan membangun kemandirian industri kimia nasional, poin ke-12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab) dengan mengolah limbah menjadi produk bernilai, serta poin ke-13 (Penanganan Perubahan Iklim) melalui pengurangan emisi gas rumah kaca.
Keberhasilan tim CarbonSteel mencapai tahap final menunjukkan peran strategis generasi muda dalam merancang solusi inovatif untuk kemandirian industri dan keberlanjutan lingkungan. Inisiatif HIPRO membuktikan bagaimana inovasi teknologi dapat menjawab tantangan ekonomi nasional sekaligus memberikan manfaat ekologis yang nyata.
Dalam penelitian ini, LCA & TEA merupakan metode-metode yang digunakan untuk mengevaluasi kelayakan ekonomi suatu siklus keseluruhan proses industri dan dampaknya terhadap lingkungan. Melalui metode tersebut, tiga rute produksi bahan bakar alkohol yang menonjol dinilai, yakni metanol dan etanol melalui proses kimiawi (MC, EC) serta etanol melalui metode biologis (EB), dengan mempertimbangkan 5 variasi sumber integrasi panel surya (Kontrol atau 0%, 25%, 50%, 75%, 100%). Tim Tecknoh Kardiox menyimpulkan bahwa produksi etanol dan metanol melalui metode kimiawi lebih menguntungkan dan ramah lingkungan dibandingkan dengan produksi Etanol secara Biologis. Namun, dari segi keberlanjutan, Etanol baik melalui metode kimiawi maupun biologis menghadapi hambatan proses (bottleneck) yang menyebabkan tingginya kebutuhan energi untuk proses pemurnian (downstream purification) tahap akhir. Hal ini, dengan demikian mempengaruhi hasil penggunaan panel surya dan biaya operasional yang tinggi dalam jangka panjang. Untuk mengatasi hambatan proses ini, tim Tecknoh Kardiox menyarankan, namun tidak terbatas pada implementasi metode distilasi yang lebih mutakhir dan kurang intensif energi, serta kerangka regulasi Carbon Capture and Utilization Storage (CCUS) yang inklusif dan siap diterapkan, bersama dengan industri yang beralih terhadap energi terbarukan dengan keperluan sertifikasi serta implementasi kredit karbon yang sistematis; sebagai sarana profitabilitas dan daya saing yang siap pasar. Kerangka kerja ini ideal untuk kontribusi negara dalam menurunkan pajak karbon sekaligus menarik investor ke teknologi yang lebih mutakhir; membangun kepercayaan dari pihak eksternal sambil secara berurutan memitigasi risiko proyek melalui daya tarik ekonomis.
Dalam Call for Paper Competition, tim Tecknoh Kardiox berhasil melalui tiga tahap intensif: penyisihan melalui abstrak makalah, semifinal melalui pengiriman makalah lengkap (full paper), dan tahap akhir presentasi makalah di hadapan dewan juri. Penelitian yang disampaikan didasarkan pada analisis industri terkini, yang menggunakan metode penilaian yang sering mengabaikan faktor-faktor kritis. Studi LCA berfokus pada emisi namun gagal mempertimbangkan jenis energi terbarukan yang digunakan, sehingga tidak akurat mencerminkan kontribusi pengurangan emisi. Kesenjangan ini semakin diperparah oleh tidak adanya penilaian tekno-ekonomi yang demikian hendak dimasukkan dalam evaluasi LCA untuk secara akurat mencerminkan variasi dalam sumber energi terbarukan. Makalah riset ini memberikan sudut pandang komprehensif mengenai produksi alkohol melalui CO2 yang berkelanjutan untuk masa depan.
Keberhasilan Tim Tecknoh Kardiox merefleksikan optimisme baru bahwa generasi muda mampu menghadirkan terobosan nyata dalam menjawab tantangan iklim. Pencapaian ini menegaskan bahwa kolaborasi ilmu dan inovasi mahasiswa dapat menjadi landasan yang kuat bagi transisi energi berkelanjutan Indonesia, melalui pendekatan analitis secara komprehensif untuk kemajuan serta keberlanjutan dalam industri bahan bakar alkohol di masa depan.
Pada kompetisi ini, tim Al-Ikhlas mengusung inovasi BIOCORE, yaitu solusi pembangkit listrik berbasis co-gasifikasi biomassa dan limbah plastik. Teknologi ini memanfaatkan sekam padi, bagasse tebu, dan limbah plastik pascakonsumsi (PE dan PP) melalui reaktor Bubbling Fluidized Bed (BFB) dengan katalis dolomit alami untuk menghasilkan gas sintesis (syngas) yang bersih dan bernilai kalor tinggi.
Inovasi BIOCORE bertujuan untuk mengurangi ketergantungan pada batubara, sekaligus mendukung target transisi energi nasional menuju energi bersih dan net-zero emission tahun 2060. Dengan kapasitas skala menengah (5 MWe), BIOCORE terbukti layak secara teknis maupun ekonomi, menghasilkan ROI sebesar 19,03%, IRR 28,73%, dan payback period hanya 4,16 tahun.
Implementasi teknologi ini tidak hanya memberikan manfaat ekonomi, tetapi juga berkontribusi terhadap pengelolaan limbah biomassa dan plastik yang berkelanjutan. BIOCORE turut mendukung pencapaian SDGs poin ke-7 Affordable and Clean Energy, poin ke-9 Industry, Innovation and Infrastructure, serta poin ke-13 Climate Action.
Keberhasilan tim ini mencapai tahap final menunjukkan peran strategis generasi muda dalam merancang solusi energi berkelanjutan berbasis potensi lokal. Inisiatif BIOCORE membuktikan bagaimana inovasi teknologi dapat menjawab tantangan transisi energi nasional sekaligus memberi manfaat ekonomi dan sosial bagi masyarakat.
Prestasi ini semakin memperpanjang catatan kemenangan tim Reactics Chem-E-Car UGM. Pada tahun sebelumnya, tim Reactics juga berhasil meraih 1st Place in Race Competition dan 2nd Place in Poster Competition di AISC 2024 serta mencatatkan posisi Top 7 Global Stage pada AIChE Annual Student Conferences Chem-E-Car Competition 2024.
Tim Reactics Chem-E-Car UGM ini dipimpin oleh Rafa Haidar Wicaksana (Departemen Teknik Mesin dan Industri) dengan lima anggota, yaitu Ikhlasul Amal Abda’i (Departemen Ilmu Komputer dan Elektronika), Akmal Argiyanto Pratama (Departemen Teknik Kimia), Ariyo Favian Tamim (Departemen Teknik Mesin dan Industri), dan Bintang Ramadhan (Departemen Teknik Kimia). Dukungan juga datang dari Muhammad Andriano Hasnam (Departemen Teknik Nuklir dan Fisika) yang berperan sebagai manajer tim.
Berbeda dari perlombaan mobil pada umumnya, tantangan utama dalam Chem-E-Car bukanlah kecepatan, melainkan ketepatan jarak. Pada kompetisi ini, mobil berhasil berhenti di jarak 28,727 meter dengan target 30 meter, selisih yang sangat tipis dan mencerminkan ketelitian perhitungan yang dilakukan.
Bagi Kapten tim, Rafa, kemenangan ini adalah hasil kerja kolektif. “Kemenangan ini bukan milik satu orang, tapi milik kita semua. Setiap usaha dan waktu yang kita korbankan, semuanya terbayar lunas. Tahun ini, kita kembali bukan sebagai peserta, tetapi sebagai pemenang dan datang untuk menjemput piala yang tertinggal itu!”.
Tim Reactics Brahmanada menghadirkan mobil dengan konsep yang unik dan inovatif. “Mobil kami memanfaatkan gas CO₂ sebagai power source yang dihasilkan dari reaksi asam-basa antara asam asetat dan natrium bikarbonat. Reaksi ini bersifat endotermik, sehingga membutuhkan pemicu eksternal. Gas CO₂ yang digunakan pun tergolong aman dan stabil karena tidak mudah terbakar seperti gas O₂,” tutur Akmal.
Keunikan lain juga terlihat dari sistem stopping-nya. Tim Reactics Brahmanada memanfaatkan sensor cahaya dengan prinsip turbiditas atau kekeruhan yang muncul karena adanya akumulasi sulfur sebagai produk dari reaksi natrium tiosulfat dan asam sulfat. Kondisi keruh tersebut membuat cahaya yang menembus sensor semakin sedikit di akhir reaksi, dan pada titik itulah mobil akan berhenti.
Inovasi mobil ini jelas menjadi senjata andalan tim dalam menghadapi kompetisi. Namun, perjalanan menuju lomba tidak sepenuhnya mulus.
“Tantangan terbesar kami justru datang dari waktu persiapan yang sangat terbatas,” ujar Ikhlas. Selama hampir dua bulan, anggota tim harus melaksanakan kegiatan KKN, sehingga membuat persiapan lomba terhenti total. Selain masalah waktu, banyak variabel selama pengembangan mobil yang mengganggu proses pengambilan data.
Ariyo Favian menyebutkan bahwa terdapat keputusan krusial yang harus diambil oleh tim terkait operasional mobil saat perlombaan berlangsung.
“Setelah race pertama, kami harus mengambil keputusan mengenai volume larutan kimia yang harus diinjeksikan ke dalam vessel dan posisi mobil pada garis start. Keputusan ini krusial karena menentukan jarak dan lintasan mobil,” ucap Favian. Tim Reactics berdiskusi dengan cepat, meninjau ulang strategi, dan menyepakati pilihan terbaik.
Tidak hanya unggul dalam aspek teknis, Tim Reactics Chem-E-Car juga menunjukkan keunggulan dalam kreativitas dengan meraih penghargaan Best Video Profile dan posisi kedua dalam Poster Competition. Prestasi ini tentu tidak lepas dari kerja sama dan dukungan dari seluruh anggota Reactics yang saling melengkapi peran.
“Di tengah persiapan teknis mobil, tim teknis berkolaborasi dengan divisi lainnya untuk menyusun poster dan video profil tim yang tidak hanya menjelaskan konsep mobil secara detail, tetapi juga menggambarkan semangat kebersamaan yang mereka bawa ke ajang perlombaan,” ucap Bintang.
Kesempatan ini diperoleh dengan bantuan dan dukungan dari seluruh tim Reactics Chem-E-Car UGM dan semua pihak yang terlibat. Tidak luput juga dukungan para dosen pembimbing Reactics, yaitu Bapak Budhijanto, ST., MT., Ph.D., IPM, Bapak Addin Suwastono, S.T., M.Eng., Bapak Mokhammad Fajar Pradipta, S.Si., M.Eng., dan Bapak Robertus Dimas Dhewangga Putra, S.T., M.Eng., PhD.
“Perjalanan ini baru dimulai, dan Boston adalah panggung berikutnya untuk membuktikan kemampuan tim kami. Harapannya, ke depan tim Reactics UGM bisa mencetak prestasi lebih tinggi lagi, serta menginspirasi bagi mahasiswa lainnya untuk berkarya,” ujar Hasnam.
Kesempatan ini menjadi momen berharga untuk membuktikan kemampuan Tim Reactics Chem-E-Car dalam bersaing dengan tim-tim terbaik dunia. Tim Reactics Chem-E-Car membawa harapan besar, tidak hanya untuk mengukir prestasi bagi Universitas Gadjah Mada, tetapi juga untuk mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional.
Tim peneliti dari Departemen Teknik Kimia UGM, baru saja menerbitkan inovasi penting dalam jurnal ilmiah internasional ACS Omega, yang membahas bagaimana cara mengolah kembali litium yang dipungut dari baterai bekas agar dapat dipakai lagi. Proses ini disebut daur ulang litium, dan yang menarik, tim ini menggunakan teknologi ultrasonic, sejenis gelombang berfrekuensi tinggi, untuk membantu membentuk kristal litium karbonat dengan ukuran partikel yang lebih seragam dari larutan hasil pelindian.
Ukuran partikel litium karbonat ini penting karena untuk dapat digunakan kembali sebagai bahan baku (prekursor) baterai baru, litium karbonat harus memiliki ukuran dan bentuk yang sesuai standar baterai. Jika terlalu besar atau tidak seragam, performa baterai akan rendah. Di sinilah teknologi ultrasonik berperan: membantu proses kristalisasi agar partikel lithium terbentuk dengan lebih halus dan merata.
Dalam penelitiannya, tim menemukan bahwa suhu dan kekuatan gelombang ultrasonik sangat berpengaruh terhadap hasilnya. Mereka bahkan berhasil memodelkan secara matematis bagaimana partikel-partikel litium ini tumbuh dan berubah selama proses berlangsung. Hasil terbaik diperoleh pada suhu 90°C dan daya ultrasonik 320 watt, kondisi ini mampu menghasilkan partikel litium karbonat dengan distribusi ukuran d10 = 2.85 μm, d50 = 5.5 μm, dan d90 = 14.55 μm, sangat sesuai untuk keperluan sintesis baterai baru.
Penelitian ini bukan hanya soal teknologi canggih. Lebih dari itu, ini adalah langkah konkret menuju ekonomi sirkuler, di mana limbah bisa diubah kembali menjadi sumber daya. Dengan daur ulang baterai, kita bisa mengurangi ketergantungan pada tambang baru, menghemat energi, dan tentu saja, menjaga lingkungan hidup.
Inovasi yang dilakukan oleh Dr. (kand.) Doni Riski Aprilianto yang dibimbing oleh Prof. Indra Perdana, Prof. Rochmadi, dan Prof. Himawan Tri Bayu Murti Petrus ini menunjukkan bahwa anak bangsa mampu berkontribusi di panggung dunia dalam isu penting seperti energi berkelanjutan. Siapa sangka, dari baterai bekas ponsel pintar dan limbah kendaraan listrik, bisa lahir solusi teknologi yang mendukung masa depan yang lebih bersih dan cerdas?
Akses ke artikel di Jurnal ACS Omega: https://doi.org/10.1021/acsomega.5c04035








