Tim Gudeg Bu Hj. Amad dari Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada berhasil menjadi finalis dalam ajang kompetisi petroleum dan energi nasional PETROLIDA 2026 melalui karya inovatif bertajuk FORGE (Flare Optimization and Recovery via Graphene EOR). Karya tersebut mengangkat solusi terintegrasi untuk mengurangi emisi gas buang (flare gas) sekaligus meningkatkan produksi minyak melalui pendekatan nanoteknologi, kecerdasan buatan, dan rekayasa proses berkelanjutan.
FORGE merupakan framework circular economy yang dirancang untuk mengubah flare gas hasil aktivitas industri migas menjadi produk bernilai tinggi berupa graphene, hydrogen, serta graphene oxide-based nanofluids (GONs) untuk Enhanced Oil Recovery (EOR). Ide ini lahir dari permasalahan tingginya emisi gas rumah kaca akibat praktik flaring di sektor minyak dan gas, yang hingga kini masih menjadi tantangan besar dalam industri energi global. Selain menimbulkan kerugian ekonomi, flare gas juga berkontribusi terhadap pencemaran lingkungan dan peningkatan emisi karbon.
Dalam penelitian ini, flare gas dimanfaatkan sebagai bahan baku utama melalui proses Catalytic Methane Decomposition (CMD) untuk memecah metana menjadi hidrogen dan karbon padat. Karbon tersebut kemudian diproses menggunakan teknologi Flash Joule Heating (FJH) untuk menghasilkan graphene berkualitas tinggi. Selanjutnya, graphene diubah menjadi graphene oxide nanofluids yang diinjeksikan ke reservoir karbonat Formasi Baturaja guna meningkatkan recovery factor minyak bumi. Keunggulan utama dari FORGE terletak pada integrasi kecerdasan buatan menggunakan algoritma CatBoost untuk mengoptimalkan konsentrasi nanofluida dan memprediksi peningkatan perolehan minyak secara akurat. Model machine learning yang dikembangkan menunjukkan performa sangat tinggi dengan nilai koefisien determinasi (R²) mendekati 0,99, menandakan kemampuan prediksi yang sangat baik terhadap performa reservoir. Selain itu, penelitian juga menunjukkan bahwa injeksi graphene oxide nanofluids mampu mengubah sifat batuan reservoir dari oil-wet menjadi water-wet serta menurunkan interfacial tension secara signifikan, sehingga proses mobilisasi minyak menjadi lebih efektif.
Dari sisi keberlanjutan, FORGE menawarkan potensi besar dalam mendukung target Zero Routine Flaring Indonesia tahun 2030. Sistem ini dilaporkan mampu mencapai efisiensi penangkapan karbon hingga 98,2% sekaligus menghasilkan berbagai sumber pendapatan dari penjualan graphene, hydrogen, carbon credits, dan peningkatan produksi minyak. Kajian tekno-ekonomi menunjukkan bahwa konsep ini memiliki prospek implementasi yang menjanjikan di industri migas masa depan. Keberhasilan tim Gudeg Bu Hj. Amad menjadi finalis pada kompetisi nasional ini menunjukkan kapasitas mahasiswa FT UGM dalam menghadirkan inovasi multidisiplin yang menggabungkan teknologi energi, material maju, artificial intelligence, dan keberlanjutan lingkungan untuk menjawab tantangan industri energi modern.
Alniko Arya Sudjatmiko (Teknik Kimia 2024), Muaffa Oktadiansyah (Teknik Geologi 2022), Keyshia Florecita (Teknik Geologi 2024)

