DEPOK, 23 Mei 2026 – Delegasi mahasiswa dari Departemen Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM) yang tergabung dalam Tim Riefan resmi mempresentasikan karya inovatif mereka dalam ajang bergengsi Process System Engineering Competition (PSEC) pada perhelatan Process and Green Engineering Days (PGD) UI 2026. Kompetisi ilmiah nasional yang diselenggarakan oleh Departemen Teknik Kimia Universitas Indonesia ini mengusung tema “Exploring Power-to-X Solutions as a Bridge Between Renewable Energy and Sustainable Industry”. Dipimpin oleh Angel Zefanya bersama anggotanya, Herlina Yulianti dan M. Rifyal Mulkan, tim UGM berhasil melaju ke babak final untuk menawarkan solusi nyata bagi tantangan dekarbonisasi industri pupuk nasional.
Dalam kompetisi ini, Tim Riefan mengajukan rancangan inovatif berjudul “An Integrated Power-to-Green and Blue-Ammonia Pathway Through Chemical Looping Reforming for Profitable and Low-Carbon Ammonia Production”. Inovasi ini mengintegrasikan teknologi Chemical Looping Reforming (CLR) dan Proton Exchange Membrane Electrolysis (PEMEC) untuk mengeliminasi penggunaan Air Separation Unit (ASU) yang selama ini menjadi momok tingginya konsumsi energi dan biaya kapital pada pabrik amonia konvensional. Dengan mengambil studi kasus di Kawasan Industri Bontang, Kalimantan Timur, rancangan pabrik hibrida biru-hijau berkapasitas 300.000 ton per tahun ini memanfaatkan potensi iradiasi surya lokal yang melimpah untuk memproduksi amonia ramah lingkungan. Pendekatan ini berhasil menyelesaikan hambatan utama berupa beban termal parasitik gas nitrogen lembam dan risiko keracunan oksigen pada katalis Haber-Bosch.
Hasil analisis teknis, ekonomi, dan lingkungan (techno-economic & LCA) menunjukkan bahwa desain pabrik hibrida ini memiliki viabilitas komersial yang sangat kuat dengan Minimum Selling Price (MSP) sebesar $480,36 per ton amonia, atau 10–12% lebih murah daripada jalur konvensional. Proyeksi finansial menunjukkan nilai investasi yang menjanjikan dengan Net Present Value (NPV) mencapai $532,3 juta, Internal Rate of Return (IRR) sebesar 18,79%, serta masa pengembalian modal (payback period) selama 4,56 tahun setelah pajak. Di sisi lain, integrasi sistem tangkap karbon (CCS) terpadu mampu memangkas emisi langsung hingga 98,5% dengan jejak karbon (Global Warming Potential) hanya sebesar 0,478 kg CO₂-eq/kg NH₃. Melalui keunggulan performa ekonomi yang tangguh dan profil lingkungan yang superior, inovasi dari mahasiswa FT UGM ini diharapkan dapat menjadi cetak biru (blueprint) nyata dalam mendukung target National Net Zero Emissions (NZE) 2060 serta menjaga ketahanan pangan Indonesia.